Ibu Berbagi Cerita

Berbagi cerita dan pengalaman dalam kehidupan ....

Warung BSB menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana nilai dari sampah dapat kembali menjadi manfaat bagi masyarakat (Sumber: Instagram Bank Sampah Bersinar).

Kalau sampah di rumah kita bisa belanja, kira-kira apa yang akan dibelinya?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sangat aneh. Ini sampah, lho, yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan dari rumah. Bagaimana mungkin sesuatu yang sudah masuk tempat sampah, malah bisa belanja?

Namun, bagaimana kalau sebagian sampah yang kita buang ternyata memang masih punya nilai? Bagaimana kalau botol plastik, kardus, kertas, atau material tertentu yang sudah kita pilah bisa dikumpulkan, ditimbang, dan menghasilkan nilai yang kemudian kembali menjadi kebutuhan?

Di sinilah saya menemukan satu hal menarik dari gerakan Bank Sampah Bersinar di bawah Yayasan Solusi Bersinar Indonesia. Sampah ternyata tidak selalu menjadi akhir dari sebuah barang. Jika dikelola dalam ekosistem yang tepat, sampah bisa menjadi awal dari manfaat baru.

Dan salah satu tempat yang membuat gagasan itu terasa nyata adalah Warung Bank Sampah Bersinar.

Dari Rumah, Sampah Mulai Memiliki Nilai

Semuanya memang dimulai dari rumah.

Kita memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah yang masih memiliki nilai dikumpulkan dan disetorkan untuk dikelola. Dari sana, sampah ditimbang, dicatat, kemudian masuk ke proses pengelolaan berikutnya.

Sederhana, bukan?

Namun, kebiasaan sederhana ini mengubah cara kita memandang sampah.

Apa yang sebelumnya hanya terlihat sebagai barang bekas, mulai memiliki nilai, yang biasanya berakhir begitu saja, ternyata masih bisa masuk kembali ke dalam sebuah rantai manfaat.

Sampah menjadi nilai. Nilai dapat menjadi barang. Dan barang kembali membawa manfaat ke rumah.
Bazar BSB, sampah ternyata bisa kembali membawa manfaat ke rumah (Sumber: Instagram Bank Sampah Bersinar).

Lalu, Bagaimana Sampah Bisa “Belanja”?

Jawabannya ada di Warung Bank Sampah Bersinar.

Melalui Warung Bank Sampah Bersinar, nilai yang diperoleh dari sampah yang telah dikelola dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan berbagai kebutuhan sehari-hari sesuai mekanisme yang berlaku.

Di titik ini, konsep ekonomi sirkular terasa lebih dekat dengan kehidupan kita.

Sampah keluar dari rumah.

Kemudian dipilah dan dikelola.

Nilainya kembali kepada masyarakat.

Dan nilai tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

Jadi, sampah memang keluar dari rumah, tetapi manfaatnya tidak harus ikut keluar dari rumah.

Bukan Sekadar Tentang Sampah

Gerakan Bank Sampah Bersinar tidak berhenti pada pengelolaan sampah.

Di dalam ekosistem Yayasan Solusi Bersinar Indonesia juga ada Kelompok Mandiri Bersinar yang bergerak dalam edukasi lokal, pengembangan pangan, serta kegiatan sosial dan budaya. Artinya, persoalan lingkungan tidak dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri.

Ada edukasi agar masyarakat memahami.

Ada pengelolaan sampah agar sesuatu yang masih bernilai tidak terbuang percuma.

Ada kegiatan pangan dan penanaman agar masyarakat bisa bertumbuh.

Ada pula kegiatan sosial dan budaya yang memperkuat kebersamaan.

Karena lingkungan yang bersih akan semakin berarti ketika masyarakat yang tinggal di dalamnya juga ikut tumbuh dan berdaya.

Dari Sampah ke Pangan, dari Nilai ke Manfaat

Bayangkan jika kebiasaan memilah sampah di rumah tidak berhenti pada berkurangnya sampah yang dibuang. Ada nilai ekonomi yang tercipta dan nilai itu bisa kembali menjadi kebutuhan. Di sisi lain, kegiatan Kelomok Mandiri Bersinar juga mendorong masyarakat untuk mengenal dan mengembangkan pangan melalui aktivitas menanam. Di sinilah ekonomi sirkular menjadi lebih dari sekadar istilah, ada sesuatu yang bergerak dalam sebuah lingkaran:

Rumah → sampah → nilai → kebutuhan → masyarakat → manfaat.

Yang tadinya kita pikir selesai di tempat sampah, ternyata masih bisa melanjutkan perjalanan.

Menuju Kota Bintang Lima, Harga Kaki Lima

Kemudian, ke mana sebenarnya semua gerakan ini bermuara?

Ada sebuah cita-cita menarik yang diusung oleh founder Bank Sampah Induk Bersinar Fifie Rahardja: Mewujudkan Kota Bintang Lima, Harga Kaki Lima. Bukan sekadar kota yang terlihat bersih dan tertata, tetapi kota yang masyarakatnya juga berdaya, kebutuhan ekonominya ikut bergerak, dan manfaat dari pengelolaan lingkungan dapat dirasakan lebih luas.

Ketika sampah dikelola, lingkungan menjadi lebih baik.

Ketika sampah memiliki nilai, masyarakat mendapatkan peluang manfaat ekonomi.

Ketika masyarakat diedukasi dan diberdayakan, gerakan menjadi lebih kuat.

Dan ketika semuanya terhubung, sebuah kota pun punya kesempatan untuk ikut bersinar.

Mungkin terdengar seperti cita-cita besar, tetapi bukankah banyak perubahan besar memang dimulai dari sesuatu yang kecil?

Satu rumah yang mulai memilah.

Satu keluarga yang mulai peduli.

Satu lingkungan yang mulai bergerak.

Satu masyarakat yang mulai melihat sampah dengan cara berbeda.
Sampah yang telah dipilah dapat disetorkan dan dikelola sehingga memiliki nilai (Sumber: Instagram Bank Sampah Bersinar).

Kalau Sampah Bisa Belanja, Apa yang Bisa Kita Mulai?

Sekarang kembali ke pertanyaan di awal: Kalau sampah bisa belanja, bagaimana caranya?

Jawabannya bukan karena sampah tiba-tiba berubah menjadi uang. Namun, karena kita mulai melihat bahwa sebagian sampah masih memiliki nilai, kemudian nilai itu dikelola dalam sebuah ekosistem agar dapat kembali memberi manfaat. Itulah salah satu wajah dari Ekonomi Sirkular Indonesia.

Bukan tentang membuat sampah menghilang, melainkan tentang mengubah cara kita memperlakukannya.

Maka, mungkin langkah pertama tidak perlu menunggu program besar. Mulailah dari rumah.dengan memilah sampah yang kita hasilkan. Kenali nilainy, lalu salurkan melalui jalur pengelolaan yang tepat.

Karena dari kebiasaan kecil itu, kita tidak hanya sedang mengurangi sampah, kita sedang belajar menciptakan nilai. Dan mungkin, dari sanalah perjalanan menuju Kota Bintang Lima, Harga Kaki Lima benar-benar dimulai.

Dari sampah menjadi berkah.
Dari rumah, untuk Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Bank Sampah Bersinar dan aneka kegiatannya, dapat mengunjungi Instagram Bank Sampah Bersinar.

Bank Sampah Bersinar
📍 Jl. Terusan Bojongsoang No. 174A, Kabupaten Bandung
📱 Admin: 0851-8686-1856
📱 Customer Service: 0813-3331-8856






Beberapa waktu lalu saya ikut Pras narik Grab dengan molis (motor listrik). Bukan karena ingin ikut mencari tambahan penghasilan juga, tapi karena saya sangat penasaran: sebenarnya seperti apa sih rasanya berada di jalan, menunggu order, menjemput, lalu mengantarkan makanan atau paket ke customer? 

Ternyata… seseru itu! 😄

Sabtu lalu, kami berangkat setelah salat Maghrib. Pras hanya mengaktifkan GrabFood dan GrabExpress dan perjalanan kami sengaja diarahkan ke Monas atau Kotu (Kota Tua) dengan harapan siapa tahu sambil dapat orderan kami bisa malam mingguan di sana. 😄 

Saya duduk di belakang sambil menikmati perjalanan, sesekali ikut memperhatikan bagaimana dia mencari alamat, menunggu pesanan, menghadapi jalanan, dan berpindah dari satu titik ke titik lainnya.

Dari situ saya baru benar-benar merasakan bahwa mencari rezeki di jalan itu tidak sesederhana yang terlihat. Ada panas, dingin, macet, lelah, harus tetap sabar ketika mencari alamat, dan tetap ramah meskipun badan sudah ingin segera pulang.

Tapi ada juga kebahagiaan-kebahagiaan kecil.

Salah satunya yaitu ketika customer memberikan tip. Entah lewat aplikasi atau langsung secara tunai. Mungkin bagi sebagian orang nominalnya biasa saja. Tapi bagi orang yang sedang berjuang di jalan, tip itu bisa terasa seperti, “Terima kasih sudah membantu saya hari ini.”

Kami sampai rumah sekitar pukul 23.00. Sebelum pulang, kami bahkan sempat mampir ke fly over yang cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang untuk menikmati pemandangan lalu lintas malam dari atas. Kemudian, kami makan siomay dan batagor, foto-foto, dan bikin boomerang. 😂

Sederhana sekali malam minggu kami.

Tapi justru dari perjalanan itu saya belajar sesuatu: kadang kita baru benar-benar bisa menghargai perjuangan seseorang setelah ikut merasakan sedikit bagian dari lelahnya.

Dan ternyata, rezeki itu bisa datang dari mana saja.

Dari order yang masuk
Dari customer yang memberi tip
Dari jalanan yang kita lewati

Bahkan dari kebersamaan sederhana yang membuat lelah terasa lebih ringan.

Malam itu saya bukan cuma ikut Pras mencari rezeki. Saya sedang belajar lebih dalam untuk menghargai perjuangannya. ❤️
 
Ayam beku dan tragedi jempol biru. (Sumber: dokpri) 

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami sebuah kisah yang lawak, tetapi menyakitkan.

Sungguh.

Kalau sekarang diceritakan memang lucu. Tapi saat kejadiannya? Tidak ada lucu-lucunya sama sekali. 😭

Kejadiannya bermula saat saya dan Pras sedang berbelanja di O!Save.

Setelah memilah dan meletakkan barang-barang yang kami butuhkan ke dalam keranjang, tibalah saya di bagian frozen food. Saya hendak mengambil nugget, sosis, dan ayam beku.

Di depan rak ayam, terlihat seorang ibu berkerudung syar'i sedang galau memilih ayam.

Diambil.

Dilihat.

Diletakkan lagi.

Ambil yang lain.

Diletakkan lagi.

Begitu terus beberapa kali.

Saya pun berdiri di belakangnya sambil menunggu dengan sabar karena saya juga ingin mengambil ayam.

Sampai akhirnya, mungkin ibu itu menyadari ada seseorang di belakangnya. Ia sedikit kaget, lalu secara tidak sengaja mundur.

Bruk!

Tubuhnya menabrak saya.

Dan ayam beku yang sedang dipegangnya terlepas dari tangan.

Jatuh.

Tepat.

Di atas.

JEMPOL KAKI KANAN SAYA!

Astaga.

Reaksi saya hanya bisa bengong.

Bagaimana tidak?

Ada sebongkah ayam beku yang kerasnya sudah hampir setara batu, beratnya kira-kira satu kilogram, menghantam jempol kaki saya.

Jempol kaki yang memar 😂 

Ibu itu langsung meminta maaf. Saya hanya mengangguk karena otak saya masih sibuk mencerna:

"Tadi… ayam… jatuh… ke kaki saya?"

Ibu tersebut kemudian langsung pergi mengantre di kasir.

Sementara saya masih berdiri di sana sambil menatap jempol kaki.

Awalnya tidak terasa apa-apa.

Tapi beberapa detik kemudian…

NYUT!

Barulah rasa sakitnya datang.

Dan ternyata sakitnya tidak main-main.

Sambil meringis, saya tetap mengambil ayam yang tadi ingin saya beli.

Mau memilih yang mana lagi?

Toh semuanya sama saja.

Sama-sama dingin.

Sama-sama keras.

Sama-sama beku.

Sama seperti hati orang yang sedang terluka.

Huhuhu. 😭

Setelah itu saya berjalan tertatih menuju kasir, tempat Pras sudah lebih dulu mengantre bersama keranjang belanjaan.

Begitu melihat saya, dia langsung memperhatikan cara saya berjalan.

Saya pun berkata,

"Kakiku ketiban ayam beku, Yang. It hurt so much."

Sambil menunjuk jempol kaki kanan saya.

Dengan wajah lucunya, Pras malah berusaha menyenggol jempol kaki saya menggunakan jempol kakinya.

Sontak saya meringis.

"Apaan sih?! Sakit, kan, kesenggol!" protes saya.

Dia malah nyengir.

"Cuma cek saja. Kalau nggak kebas, berarti masih aman dong."

Sambil tertawa kecil.

Saya langsung melotot.

"Ngecek kok begitu sih caranya? Jahat ih!"

Iya.

Di saat jempol saya sedang mengalami tragedi nasional, pasangan malah melakukan uji kelayakan jempol dengan jempolnya sendiri.

😭

Semakin lama, rasa nyerinya semakin hebat.

Sampai akhirnya saya tidak kuasa menahan air mata.

Setelah selesai membayar, saya berjalan tertatih sambil digandeng Pras.

Tak lama kemudian, ibu yang tadi menyebabkan tragedi ayam beku itu kebetulan lewat di dekat kami.

Saya langsung menyenggol Pras.

"Itu tadi ibu-ibu yang jatuhin ayam ke jempolku..."

Dan entah kenapa, setelah mengatakan itu, air mata saya malah semakin deras.

Saat hendak turun dari teras O!Save menuju motor, saya bahkan sampai terhenti di anak tangga.

Jempol saya semakin nyeri.

Air mata semakin banyak.

Pras yang melihat saya akhirnya memutar motor dan mendekatkannya ke tangga. Ia turun, lalu memapah saya naik ke motor.

Saya menangis kejer.

Malu juga sebenarnya karena menangis hanya gara-gara jempol ketiban ayam.

Akhirnya saya membenamkan wajah ke punggung Pras.

Sampai di rumah, masalah baru muncul.

Kami tinggal di lantai dua.

Saya berdiri di depan tangga.

Mematung.

Melihat sekitar sepuluh anak tangga di depan mata.

Dan saya sadar…

Saya tidak sanggup naik.

Pras segera turun dari motor, membawa belanjaan naik ke atas, lalu turun kembali.

Saya pikir dia akan memapah saya naik.

Ternyata…

TIDAK.

Dia malah menggendong saya.

Naik.

Sepuluh.

Anak.

Tangga.

Sambil menggendong wanita tercintanya yang menangis karena jempolnya baru saja dihantam ayam beku.

Sungguh luar biasa. 😂

Kami berdua bahkan tertawa di tengah situasi itu.

Sampai Pras berkata,

"Berhenti ketawa atau kita jatuh bareng di tangga!"

Katanya sambil menahan tawa.

Saya pun tetap menangis dalam tawa.

Begitu sampai di rumah, anak-anak melihat saya masih digendong.

Saya berkata,

"Kak, tolong lepaskan sendalnya."

Tidak ada yang bergerak.

Mereka semua mengira kami sedang bercanda.

Maklum.

Mungkin pemandangannya memang seperti ibu sedang manja-manjaan minta digendong ayahnya.

Akhirnya saya berkata,

"Hei! This isn't joking, guys!"

Barulah mereka datang menghampiri.

Dan ketika melihat saya benar-benar menangis kejer dalam tawa, mereka langsung tahu bahwa telah terjadi sesuatu.

Begitu mendengar cerita sebenarnya?

Pecahlah tawa satu rumah.

Tidak henti-hentinya mereka menertawakan kisah jempol yang tertimpa ayam.

Hana bahkan berkata,

"Kenapa nggak nangis raung-raung aja sih di sana? Biar ibu itu ganti rugi. Minimal minta gratis ayam, hahaha!"

Arya tidak mau kalah.

Dia langsung memperagakan adegan duduk di lantai sambil memegang kaki.

"Aduuhhh… sakiiit… jempolnyaaa…"

Dan kami semua akhirnya tertawa terbahak-bahak.

Begitulah.

Satu keluarga menertawakan penderitaan satu jempol.

😭😂

Malam itu saya bahkan sempat minum obat pereda nyeri karena rasa sakitnya benar-benar tidak tertahankan. Merendam kaki dengan air hangat serta mengoleskan salep untuk memar dari dokter klinik BNN.

Dan keesokan lusa, karena Kak Hana yang sedang magang di kantor saya di BNN dan jadwal tiap Jumatnya WFH, saya terpaksa berangkat kerja naik TJ.

Nah, di sinilah babak kedua tragedi jempol dimulai.

Penuhnya Trans Jakarta pagi hari (Sumber: Kumparan) 

TJ penuh.

Penuh sekali.

Saya langsung waswas.

Bukan karena takut terlambat.

Bukan pula karena takut tidak kebagian tempat.

Saya takut…

JEMPOL SAYA DIINJAK ORANG!

Sepanjang perjalanan, saya beberapa kali berusaha menghindari kaki-kaki orang yang berpotensi menyerempet jempol kanan saya.

Ada kaki ke kiri, saya menghindar.

Ada kaki ke kanan, saya mundur.

Ada orang bergeser sedikit…

Saya langsung panik.

"Jangan jempol saya… jangan jempol saya…"

Hahaha.

Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di kantor dengan selamat.

Jempol aman.

Tidak ada tragedi lanjutan, dan Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat perlahan jempol kanan saya mulai membaik. Memarnya pun berkurang.

Dan sekarang, kalau mengingat kejadian itu, saya malah tertawa sendiri.

Ternyata hidup memang kadang punya cara yang aneh untuk menghibur kita.

Bukan lewat liburan.

Bukan lewat hadiah.

Bukan pula lewat kejutan manis.

Tapi lewat…

ayam beku seberat satu kilogram yang jatuh tepat ke jempol kaki.

😂😂😂

Sungguh pengalaman yang seru dan lucu.

Walaupun… jempol saya mungkin tidak setuju kalau kejadian ini disebut lucu.

Di tengah hidup yang memang kadang sudah seperti panggung komedi, saya belajar satu hal:

Kalau hidup sedang menyakitkan, setidaknya pastikan kita masih bisa menertawakannya setelah rasa sakitnya reda.

Tapi kalau ada yang mau membeli ayam beku setelah membaca cerita ini…

Tolong hati-hati.

Jangan sampai ayamnya menyerang jempol kalian juga. 😭😂

Ruang tumbuh bersama Naisar Garden

Ada tanah yang menopang akar, ada air yang menghidupinya, ada cahaya yang membuatnya berkembang, dan ada tangan yang dengan sabar merawatnya, sehingga tidak ada tanaman yang benar-benar tumbuh sendirian.

Mungkin begitu juga dengan manusia.

Kita bertumbuh karena pernah bertemu seseorang, belajar dari pengalaman, mendapatkan kesempatan, atau menemukan sebuah tempat yang membuat kita melihat dunia dengan cara berbeda. Karena itu, ketika berbicara tentang Naisar Garden, saya tidak ingin hanya membicarakan tanaman. Justru saya ingin melihat apa yang bisa tumbuh ketika sebuah kebun menjadi tempat manusia bertemu.

Ketika Kebun Menjadi Ruang Pertemuan

Sebuah kebun mungkin terlihat sederhana.

Ada tanah, tanaman, jalan setapak, dan berbagai aktivitas di dalamnya. Namun, ketika orang datang untuk belajar, berbincang, mencoba menanam, atau sekadar menikmati suasana, kebun berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup. Di sinilah Kebun Naisar menarik untuk dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan hanya tentang apa yang tumbuh dari tanah, tetapi juga tentang interaksi yang terjadi di sekitarnya. Ada orang yang datang dengan pengetahuan, ada yang datang dengan rasa ingin tahu, dan ada pula yang mungkin awalnya hanya ingin melihat-lihat, tetapi pulang dengan membawa sebuah gagasan baru.

Bukankah banyak hal dalam hidup memang bermula dari sebuah pertemuan?

Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Ruangan

Kita sudah terbiasa menganggap belajar sebagai aktivitas yang dilakukan di sekolah, ruang kelas, atau di depan buku. Padahal, alam juga merupakan ruang belajar yang luar biasa.

Melalui Wisata Edukasi Naisar, kebun dapat menjadi tempat untuk belajar melalui pengalaman langsung. Melihat tanaman tumbuh, mengenal berbagai jenis tanaman, memahami bagaimana sesuatu dirawat, sampai mengamati proses dan hasilnya.

Pembelajaran seperti ini menurut saya terasa berbeda karena tidak berhenti pada pengetahuan. Ada pengalaman yang ikut melekat di sana. Anak-anak bisa belajar bahwa sesuatu yang kita nikmati membutuhkan proses dan orang dewasa pun bisa kembali mengingat bahwa tidak semua hal harus berlangsung cepat.

"Ada sesuatu yang harus ditanam terlebih dahulu sebelum bisa dipanen."

Dari Kebun, Kita Belajar Berbagi

Hal lain yang menarik dari sebuah ruang seperti Naisar Garden adalah kesempatan untuk saling berbagi. Pengetahuan tentang tanaman yang sebelumnya hanya dimiliki seseorang bisa berpindah kepada orang lain. Pengalaman berkebun, cara merawat tanaman yang bisa dipraktikkan bersama, serta sebuah kebiasaan baik bisa yang ditularkan dari satu orang kepada orang berikutnya.

Pada titik ini, kebun tidak lagi hanya menghasilkan tanaman, tetapi juga menghasilkan pengetahuan, pengalaman, dan hubungan antarmanusia. Mungkin inilah makna sederhana dari tumbuh bersama.

Kebun Naisar mengajarkan bahwa menanam bisa dimulai dari ruang sederhana. Seperti kangkung dalam polibag, sesuatu yang kecil pun dapat menjadi awal untuk tumbuh dan berbagi.(Dokpri).

Bukan berarti semua orang harus memiliki kemampuan yang sama. Namun, karena setiap orang membawa hal-hal yang berbeda, sehingga sebuah ruang bersama menjadi lebih kaya.

Ketika Kepedulian Menjadi Kebiasaan

Lingkungan juga membutuhkan manusia yang mau peduli.

Kebun Naisar mengajarkan bahwa tumbuh bersama berarti berbagi pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan agar kebaikan dapat terus berkembang.(Dokpri)

Bukan hanya melalui kampanye besar, tetapi melalui kebiasaan sehari-hari, seperti:

-Mengenal tanaman.

-Menjaga kebersihan.

-Menghargai pangan.

-Mengurangi sampah.

-Memanfaatkan ruang yang tersedia dengan lebih bijak.

Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa. Namun, ketika dilakukan oleh semakin banyak orang, ia dapat berubah menjadi sebuah gerakan. Dari sinilah gerakan peduli lingkungan dari pekarangan rumah tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang rumit.

Hal tersebut bisa dimulai dari satu keluarga, kemudian menginspirasi keluarga lain. Satu orang belajar, lalu berbagi kepada orang berikutnya. Seperti tanaman yang tumbuh berdampingan, manusia pun bisa berkembang ketika saling memberi ruang.

Ternyata, Kita Memang Tidak Tumbuh Sendirian

Pada akhirnya, mungkin itulah hal paling menarik yang bisa kita pelajari dari sebuah kebun, bahwa tanaman tumbuh dengan dukungan banyak hal. Begitupun dengan manusia. Kita membutuhkan lingkungan yang baik, kesempatan untuk belajar, orang-orang yang bersedia berbagi, dan ruang untuk terus berkembang.

Naisar Garden mengingatkan bahwa sebuah kebun tidak harus berhenti pada apa yang terlihat oleh mata karena di dalamnya bisa tumbuh rasa ingin tahu, tumbuh pengetahuan., tumbuh kepedulian, dan mungkin, di antara tanaman-tanaman yang tumbuh di sana, ada pula manusia yang pulang dengan membawa versi dirinya yang sedikit berbeda.

"Sebab pada akhirnya, tumbuh bersama bukan tentang siapa yang paling cepat berkembang. Melainkan tentang bagaimana kita bisa saling membantu agar lebih banyak hal baik memiliki kesempatan untuk tumbuh."

Inspirasi furniture multifungsi untuk rumah minimalis: memadukan fungsi, kerapian, dan kehangatan furniture kayu dalam satu ruang.

Rumah yang kecil bukan berarti kebutuhan para penghuninya ikut berkurang.

Karena kita tetap membutuhkan tempat untuk bekerja, belajar, menyimpan barang, bersantai, hingga berkumpul bersama keluarga. Persoalannya, bagaimana semua kebutuhan tersebut bisa dilakukan tanpa membuat rumah terasa penuh?

Menurut saya salah satu jawabannya adalah furniture multifungsi.

Konsep furniture multifungsi bukan sekadar membuat sebuah perabot dapat digunakan untuk dua keperluan, tetapi mengajak kita memikirkan kembali bagaimana setiap benda di dalam rumah bisa bekerja secara lebih optimal.

Make over ruang bawah tangga, untuk manfaat lebih maksimal. (Sumber: Instagram @ammarkaayu)

Satu Furniture, Lebih dari Satu Fungsi

Bayangkan sebuah meja yang tidak hanya digunakan untuk bekerja, tetapi juga memiliki ruang penyimpanan. Atau tempat duduk yang bagian bawahnya dapat dimanfaatkan untuk menyimpan barang, meja belajar yang dapat dilipat ketika tidak digunakan sehingga memberikan ruang lebih luas untuk aktivitas lainnya. Bahkan ruang bawah tangga yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan penyimpanan barang.

Konsep seperti ini semakin relevan bagi hunian masa kini, terutama pada interior rumah minimalis Bandung yang mengutamakan ruang lapang, sederhana, tetapi tetap fungsional.

Kuncinya bukan memiliki furniture sebanyak mungkin, tetapi sebaliknya, kita perlu memilih perabot yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan.

Tidak Semua Rumah Membutuhkan Furniture yang Sama

Pernahkah kita membeli furniture yang terlihat bagus di toko, tetapi ternyata ukurannya kurang sesuai ketika ditempatkan di rumah? Hal seperti ini cukup umum terjadi.

Setiap rumah memiliki ukuran ruangan, bentuk sudut, jumlah penghuni, dan kebiasaan yang berbeda. Karena itu, furniture yang cocok untuk satu rumah belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk rumah lainnya.

Furniture dapat dirancang berdasarkan ukuran ruang dan kebutuhan penghuninya. Area yang sebelumnya terasa sulit dimanfaatkan pun bisa mendapatkan fungsi baru. Konsep ini membuat furniture tidak hanya menjadi elemen dekorasi, tetapi juga bagian dari solusi untuk kehidupan sehari-hari.

Ketika Furniture Menyesuaikan dengan Penghuninya

Ammar Kaayu sebagai jasa custom furniture Bandung, memiliki konsep furniture multifungsi yang menarik. Ada gagasan tentang furniture yang tidak hanya memiliki satu kegunaan, tetapi dapat menyesuaikan dengan aktivitas penggunanya.

Pendekatan seperti ini sebenarnya sederhana, tetapi sangat relevan. Sebab, sebuah rumah bukanlah merupakan ruang pamer. Ada anak yang membutuhkan tempat belajar, orang tua yang membutuhkan ruang kerja, keluarga yang membutuhkan lebih banyak tempat penyimpanan. Semua aktivitas tersebut membutuhkan ruang yang berbeda, sementara luas rumah belum tentu bisa bertambah.

Furniture kemudian dituntut untuk menjadi lebih fleksibel.

Material kayu juga dapat memberikan karakter tersendiri. Kehadiran Ammar Kaayu sebagai penyedia jasa mebel kayu Bandung dengan desain yang tepat bisa membuat ruangan terasa lebih hangat tanpa harus dipenuhi banyak dekorasi.

Tentu saja, kualitas tetap penting. Sebagai penyedia furniture kayu berkualitas Bandung bukan hanya tentang tampilan yang menarik, tetapi juga bagaimana material dan pengerjaannya mampu mendukung fungsi furniture dalam jangka panjang.

Furniture multifungsi sangat membantu untuk memaksimalkan ruang yang ada. (Sumber: Instagram @ammarkaayu)

Rumah Kecil Bukan Berarti Terbatas

Pada akhirnya, rumah bukan hanya tentang seberapa luas ruang yang kita miliki, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya.

Furniture multifungsi mengajarkan bahwa satu benda dapat memiliki lebih dari satu peran. Satu ruangan pun dapat digunakan untuk berbagai aktivitas tanpa harus dipenuhi terlalu banyak barang.

Ketika furniture dirancang dengan mempertimbangkan ukuran ruang, kebutuhan, dan kebiasaan penghuninya, rumah pun terasa lebih personal.

Mungkin inilah yang membuat konsep furniture multifungsi menarik untuk terus dikembangkan. Bukan agar kita memiliki lebih banyak barang, tetapi agar setiap barang yang kita miliki benar-benar memiliki alasan untuk berada di rumah.

Rumah yang kecil tidak selalu berarti ruang yang terbatas.

Kadang, kita hanya membutuhkan furniture yang lebih cerdas untuk membuat ruang terasa jauh lebih luas.

Membawa semangat kemerdekaan dengan kostum yang terinspirasi dari tarian Legong Keraton dan kisa burung Garuda.
(Sumber: Dokpri)

Ada berbagai cara untuk merayakan kemerdekaan. Misalnya saja dengan upacara, memasang bendera, mengikuti perlombaan, atau sekadar berkumpul dan tertawa bersama.

Tahun ini, saya memilih cara yang sedikit lebih heboh: ikut lomba baca puisi dan lomba kostum dalam rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Dan ternyata, perjalanan saya dalam perayaan kali ini justru menghasilkan cukup banyak cerita. Termasuk cerita unik tentang bunga kamboja yang sampai harus “diburu” ke sekitar Stasiun LRT Ciracas. 🤣

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 19–27 Agustus 2026. Berbagai lomba digelar untuk memeriahkan suasana, mulai dari badminton, voli, tenis meja, baca puisi, karaoke, hingga fun games. Puncaknya diisi dengan lomba kostum, bazar, fun games, karaoke, serta pengumuman dan penyerahan hadiah dari lomba-lomba yang telah berlangsung sebelumnya.

Acara puncak dilaksanakan di lapangan BNN Pusat dan diawali dengan pelepasan balon ke udara. Drs. Yuki Ruchimat, M.Si., selaku Ketua Dewan Pengurus KORPRI BNN sekaligus Plt. Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, menyampaikan pidato mewakili Kepala BNN. Acara kemudian dibuka oleh Mangaradja Surjadi Hutagaol, Ak., M.M., Inspektur III pada Inspektorat Utama BNN.

Sejumlah pejabat dan pimpinan unit kerja BNN pun turut hadir dalam kemeriahan acara tersebut.


Pelepasan balon ke udara menandai dimulainya acara puncak perayaan HUT ke-81 RI di lingkungan BNN. (Sumber: Humas BNN RI)

Dari Puisi ke Panggung Kostum

Saya sendiri mendapat kesempatan mengikuti lomba baca puisi yang dilaksanakan hari Senin, 24 Agustus 2026 di gedung BNN lantai 7. Puisi yang dibawakan sudah ditentukan oleh panitia. Jadi, tantangan sesusngguhnya bukan membuat puisi sendiri, melainkan bagaimana menghidupkan kata-kata tersebut ketika berdiri di depan peserta dan juri.

Sebagai orang yang sejak dulu memang suka menulis, membaca puisi terasa menyenangkan. Namun, tetap saja, untuk tampil di depan banyak orang selalu punya sensasi tersendiri.

Mengikuti lomba baca puisi dengan karya yang telah ditentukan oleh panitia.
(Sumber: Dokpri)

Tidak selesai di lomba puisi, saya kemudian mengikuti lomba kostum.

Ada satu hal yang cukup menarik dari lomba kostum yang digelar. Tema kemerdekaan ternyata ditafsirkan dengan sangat bebas. Ada yang tampil dalam kelompok dengan karakter yang begitu beragam, ada pula yang membawa nuansa kerajaan dan tokoh fantasi. Kreativitas peserta benar-benar tidak ada habisnya.

Saya sendiri sempat membayangkan, “Ini lomba kostum kemerdekaan atau parade karakter?” 😂Namun, mungkin justru itulah yang ingin dihadirkan: bukan sekadar keseragaman tema, melainkan keunikan, keberanian tampil, dan kemeriahan.

Sementara itu, saya memilih membawa sesuatu yang terasa cukup dekat dengan diri sendiri. Nah, yang satu ini ceritanya lebih panjang. 😂

Kostum yang saya kenakan terinspirasi dari kostum Legong Keraton yang mengangkat kisah sepasang burung garuda. Saya kemudian membayangkan sosok Jatayu seperti yang pernah saya lihat dalam visual Garuda Wisnu Kencana (GWK), menjadi penjaga negeri dari ancaman narkoba bersama BNN.

Konsep tersebut kemudian dimodifikasi oleh anak pertama saya, Lovhana atau Hana, yang saat ini berada di semester 7 Fakultas Tehnik Informatika Universitas Bina Sarana Informatika dan memang seorang cosplayer. Bahkan sayap dan tongkat yang saya gunakan dibuat sendiri oleh Hana.

Kain prada Bali dan berbagai aksesori tari yang saya gunakan merupakan koleksi pribadi. Maklum, saya memang sudah menjadi penari Bali sejak SD. Jadi kali ini, beberapa benda yang selama ini tersimpan akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali tampil.

Lalu tibalah cerita paling seru: bunga kamboja.

Saat bingung di mana harus mencari bunga kamboja, ada satu ide yang datang dari Mbak Tari, teman satu ruangan saya di Litbang dan ide tersebut kemudian direalisasikan oleh Pras.

Maka dimulailah sebuah misi khusus: mencari bunga kamboja.

Pras akhirnya memetik bunga kamboja langsung dari pohonnya di sekitar Stasiun LRT Ciracas seperti ide yang diberikan oleh Mbak Tari. Dengan melompat dan menarik daunnya, sampai memastikan tidak ada petugas keamanan yang marah, juga tetesan getah dari bonggol batang kamboja yang mengenai celana panjang.🤣

Sungguh sebuah perburuan bunga kamboja yang tidak akan pernah saya lupakan. 🤣🤣🤣

Bunga kamboja yang menjadi bagian dari mahkota kostum—hasil "operasi khusus" Pras atas ide Mbak Tari🤣 (Sumber: Dokpri)


Puslitdatin, Dua Kali Naik Podium

Perjuangan tersebut ternyata berbuah manis.

Dalam lomba kostum, Puslitdatin berhasil meraih Juara Harapan III. Juara I diraih Biro Keuangan, Juara II Biro Perencanaan Settama, dan Juara III Direktorat PLRKM.

Dan ternyata Puslitdatin belum selesai mengumpulkan prestasi.

Dalam fun games, Kevin berhasil membawa Puslitdatin menjadi Juara II lomba jalan lurus.

Kevin (tengah) menerima hadiah lomba jalan lurus dan lomba kostum.
(Sumber: Dokpri)

Dukungan teman-teman Puslitdatin membuat lomba-lomba ini terasa jauh lebih menyenangkan. Ada yang membantu memikirkan konsep, memberikan semangat, mendukung saat tampil, mengatur konsumsi, sampai ikut merasakan deg-degannya ketika menunggu pengumuman.

Pengumuman dan penyerahan hadiah berlangsung sekitar pukul lima sore, sebagian besar pegawai sudah lebih dulu pulang. Termasuk saya😂. Jadi, ketika nama Puslitdatin dipanggil sebagai Juara Harapan III lomba kostum, Kevin-lah yang maju menerima hadiah mewakili tim. Untunglah kemenangan tidak mensyaratkan sang peserta kostum harus bertahan sampai acara benar-benar selesai. 🤣

Bersama ciwi-ciwi Puslitdatin. (Sumber: Luthfi-Bendahara BP)

Pada akhirnya, kemerdekaan memang tidak selalu harus dirayakan dengan sesuatu yang besar.

Kadang, kemerdekaan terasa sederhana ketika kita diberi kesempatan untuk tertawa bersama, mencoba sesuatu yang berbeda, berani tampil, dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang setiap hari kita temui.

Bagi saya, HUT ke-81 RI tahun ini benar-benar meninggalkan cerita yang cukup lengkap: ada puisi, ada kostum, ada dua penghargaan untuk Puslitdatin, ada kreativitas Hana, ada kenangan menari sejak kecil, dukungan teman-teman, dan tentu saja...

Ada sebuah misi rahasia mencari bunga kamboja di LRT Ciracas. 🤣

Ternyata, kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan cara sesederhana itu: bersama-sama menciptakan cerita yang kelak akan kita tertawakan lagi.

Dulu saya menulis untuk menyimpan cerita. Setelah mengenal Indscript Creative saya menjadi paham, bahwa tulisan juga bisa menjadi jalan untuk menginspirasi.

Dulu saya mengira menulis adalah cara paling sederhana untuk menyimpan cerita. Saya menulis agar sesuatu tidak hilang begitu saja. Percakapan yang pernah terjadi, perasaan yang pernah singgah, atau pengalaman yang pernah membuat saya tertawa juga menangis. Semuanya bagi saya bisa disimpan dalam kata-kata.

Mungkin karena itulah saya senang menulis sejak kecil. Ada rasa tenang dan bahagia ketika sebuah cerita yang berputar-putar di kepala akhirnya menemukan tempatnya di atas kertas. Namun semakin lama saya menulis, saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Sebuah tulisan ternyata tidak selalu berhenti ketika titik terakhir diletakkan. Karena terkadang, perjalanan sebuah tulisan justru baru dimulai ketika seseorang membacanya.

Ketika Cerita Menemukan Pembacanya

Kalimat inilah yang selalu saya percayai, bahwa setiap tulisan, setiap cerita, pasti akan menemukan pembacanya. Saya pernah menulis tentang kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu, pengalaman, pemikiran, juga cerita fiksi. Ada tulisan yang kemudian menjadi buku, ada yang hanya menjadi artikel, dan ada pula yang mungkin dibaca beberapa orang lalu berlalu begitu saja.

Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi setelah seseorang membaca tulisan kita. Bisa jadi ada seorang ibu yang membaca sebuah tulisan lalu merasa,

"Oh, ternyata bukan hanya saya yang mengalami ini."

Bisa jadi ada seseorang yang sedang ragu memulai sesuatu menemukan keberanian setelah membaca cerita orang lain. Atau mungkin ada seseorang yang sedang berada di titik paling sepi dalam hidupnya menemukan satu kalimat yang membuatnya bertahan sedikit lebih lama.

Satu cerita mungkin sederhana bagi penulisnya, tetapi bisa berarti bagi seseorang yang sedang membutuhkannya. Inilah makna From Writing to Inspiring bagi saya.

Di situlah saya mulai memahami bahwa menulis bukan hanya tentang menyampaikan sesuatu, menulis juga bisa menjadi cara untuk menemani.

Kita Tidak Pernah Tahu Siapa yang Sedang Membutuhkan Sebuah Kalimat

Ada tulisan yang kita buat dengan sangat sederhana, bahkan kita mungkin bahkan tidak menganggapnya istimewa. Namun, ternyata bagi orang lain, tulisan itu bisa datang pada waktu yang tepat.

Saya sering teringat hal ini ketika membaca kembali tulisan-tulisan lama. Ada kalimat yang dulu saya tulis tanpa banyak berpikir, tetapi bertahun-tahun kemudian justru terasa seperti sedang berbicara kepada diri saya sendiri.

Mungkin memang begitulah cara kerja tulisan. Ia menyimpan sesuatu dari diri kita, lalu suatu hari nanti menemukan seseorang yang membutuhkan pesan itu. Karena itu, saya semakin percaya bahwa seorang penulis tidak selalu harus memiliki cerita yang luar biasa.

Cerita yang jujur pun bisa berarti.

Kita tidak harus menjadi orang terkenal untuk menginspirasi. Karena terkadang kita hanya perlu berani menceritakan apa yang pernah kita lalui.

Dari Menulis untuk Diri Sendiri, Menjadi Sesuatu untuk Orang Lain

Hari ini, ketika melihat kembali perjalanan saya di dunia literasi, saya merasa ada perubahan yang perlahan terjadi.

Dulu tujuan saya menulis terutama hanya untuk menyimpan cerita. Namun sekarang saya ingin tulisan saya juga bisa membuka ruang bagi orang lain untuk menemukan cerita mereka sendiri.

Itulah mengapa pada akhirnya saya membuat sebuah saluran WhatsApp dengan berbagai tulisan reflektif, saya juga menikmati ketika bisa mendampingi orang lain menulis, membaca naskah mereka, atau sekadar mendengarkan cerita yang ingin mereka tuangkan ke dalam buku.

Sebab mungkin, di balik keinginan seseorang untuk menulis, ada kebutuhan yang jauh lebih dalam: ingin didengar, ingin dipahami, atau ingin meninggalkan sesuatu yang bermakna.

Dan mungkin itulah makna From Writing to Inspiring bagi saya.

Teruslah menulis dan berbagi. Siapa tahu, tulisan kita adalah jawaban yang sedang dicari seseorang.

Bukan tentang seberapa banyak orang yang membaca tulisan kita. Bukan pula tentang seberapa terkenal nama kita sebagai penulis. Namun, tentang kemungkinan bahwa satu tulisan yang kita buat dengan tulus dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Membuat seseorang berani memulai, atau bahkan membantu seseorang menemukan dirinya kembali.

Tulisan memang bisa berhenti di halaman. Namun, ketika ia sampai kepada hati seseorang, perjalanan itu belum selesai. Ia bisa berubah menjadi keberanian, harapan, bahkan inspirasi. ❤️

Mungkin itu pula yang saya rasakan selama perjalanan bersama Indscript Creative—bahwa tulisan tidak harus berhenti sebagai kata-kata di halaman. Ia bisa menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman seseorang dengan hati orang lain.

 

Tips Memilih Backrop TV Kayu
Inspirasi backdrop TV kayu untuk interior rumah minimalis yang rapi, fungsional, dan nyaman.

Penempatan televisi mungkin hanya membutuhkan satu dinding,  tetapi ketika dinding itu menjadi pusat perhatian ruang keluarga, cara kita menatanya bisa mengubah suasana seluruh ruangan.

Di rumah minimalis, area televisi seringkali menjadi salah satu bagian yang paling mudah terlihat penuh. Misalnya saja kabel, perangkat elektronik, koleksi barang, hingga berbagai benda kecil yang bisa membuat ruangan menjadi tampak berantakan.

Salah satu solusi yang banyak dipilih adalah menggunakan backdrop TV karena tidak hanya sebagai tempat meletakkan televisi saja, backdrop yang dirancang dengan tepat dapat menjadi bagian dari interior sekaligus membantu mengatur ruang penyimpanan.

Namun, sebelum membuat atau memilih jasa pembuatan backdrop TV kayu, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan:

1. Sesuaikan Ukuran Backdrop dengan Ruangan

Jangan sampai backdrop TV justru membuat ruang keluarga terasa semakin sempit.

Beberapa hal yang patut menjadi perhatian yaitu: ukuran dinding, ukuran televisi, posisi pintu dan jendela, serta jarak pandang dari sofa. Backdrop yang terlalu besar bisa membuat ruangan terasa penuh, sedangkan yang terlalu kecil akan terlihat kurang proporsional.

Misalnya saja pada hunian dengan ruang terbatas di Bandung. Desain interior rumah minimalis Bandung dibuat menyesuaikan ruang terbatas, dengan prinsip sederhana: manfaatkan ruang secukupnya tanpa mengorbankan sirkulasi.

2. Tentukan Fungsi Sebelum Memikirkan Bentuk

Backdrop TV memang bisa dibuat cantik. Namun, jangan sampai kita hanya mengejar tampilan. Perhatikan terlebih dahulu: apa yang sebenarnya ingin disimpan di area tersebut?

Apakah hanya televisi dan perangkat pendukungnya? Atau kita juga membutuhkan rak untuk buku, koleksi, dekorasi, maupun tempat menyembunyikan perangkat elektronik?

Furniture yang baik seharusnya membantu aktivitas penghuni rumah, bukan hanya menjadi pajangan saja. Karena itu, konsep furniture multifungsi bisa menjadi pilihan menarik, terutama untuk rumah dengan luas terbatas.

3. Pilih Material yang Sesuai dengan Karakter Rumah

Kayu dapat memberikan kesan hangat dan natural pada ruang keluarga. Namun, bukan berarti semua jenis dan warna kayu akan cocok untuk setiap rumah. Hal yang harus menjadi pertimbangan adalah: warna dinding, lantai, sofa, pencahayaan, serta furniture lain yang sudah ada.

Jika ingin menghadirkan nuansa natural, jasa mebel kayu Bandung Ammar Kaayu dapat menjadi salah satu referensi. 

Ammar Kaayu sebagai penyedia jasa furniture kayu berkualitas Bandung selalu memperhatikan bukan hanya tampilan, tetapi juga kualitas bahan dan pengerjaannya. Sebab furniture seharusnya tidak hanya menarik ketika baru dipasang, tetapi juga nyaman digunakan dalam jangka panjang.

4. Jangan Lupakan Kabel dan Perangkat Elektronik

Hal kecil yang sering terlupakan ketika membuat backdrop TV adalah pengaturan kabel. Padahal, kabel yang terlihat berseliweran dapat mengurangi keindahan seluruh desain. Karena itu, sejak awal pikirkan posisi stop kontak, decoder, soundbar, konsol permainan, maupun perangkat elektronik lainnya.

Backdrop yang baik seharusnya membuat area tersebut terlihat lebih rapi, bukan justru menambah pekerjaan untuk menyembunyikan kabel setelah semuanya selesai.

5. Pilih Pembuat Furniture yang Memahami Kebutuhan Ruang

Jika backdrop dibuat secara custom, kita tidak hanya membutuhkan orang yang bisa membuat furniture, tetapi kita membutuhkan pihak yang mampu memahami ukuran ruang, fungsi, material, hingga karakter penghuni rumah. Inilah alasan custom furniture menarik bagi pemilik rumah. Furniture dapat dirancang berdasarkan kondisi ruang yang benar-benar ada, bukan sekadar mengikuti ukuran standar.

Di Bandung, Ammar Kaayu, sebagai jenama lokal yang bergerak dalam produksi furniture berbahan kayu, furniture multifungsi, desain ruangan, dan kebutuhan interior sangat menjadi rekomendasi. Konsep furniture yang memperhatikan fungsi seperti ini menjadi semakin relevan bagi rumah-rumah masa kini, terutama ketika setiap meter ruang perlu dimanfaatkan dengan bijak.

Backdrop TV Kayu Ammar Kaayu Bandung
Inspirasi jasa pembuatan backdrop TV kayu dari Ammar Kaayu, Bandung, dengan desain modern yang menyatukan fungsi dan estetika ruang keluarga. Sumber: Instagram @ammarkaayu

Backdrop TV Bukan Sekadar Hiasan

Pada akhirnya, backdrop TV bukan hanya soal membuat dinding tempat televisi terlihat lebih cantik, tetapi bisa menjadi bagian dari cara kita mengatur rumah. Ketika ukurannya tepat, fungsinya jelas, materialnya sesuai, kabel tertata, dan desainnya menyatu dengan ruangan, backdrop TV justru dapat membuat ruang keluarga terasa lebih nyaman.

Rumah yang rapi bukanlah rumah yang tidak memiliki banyak barang, tetapi rumah yang tahu di mana setiap barang seharusnya berada. Dan mungkin, dari satu dinding tempat televisi berada, kita bisa mulai membuat ruang keluarga terasa lebih personal.

 

Naisar Garden menghadirkan ruang hijau yang dapat menjadi tempat belajar, menanam pangan, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dari pekarangan rumah.

Rumah seharusnya terasa seperti tempat paling nyaman untuk pulang. Namun nyatanya, semakin hari, rumah terasa semakin penuh.

Penuh dengan berbagai barang, penuh dengan aktivitas dan pekerjaan penghuninya, bahkan penuh dengan semua rutinitas yang kadang membuat kita lupa bahwa rumah seharusnya juga menjadi tempat untuk bernapas.

Karena itu, sudah seharusnya kita mulai mencari ruang hijau, ruang untuk bernapas. Menaruh tanaman di teras, membuat taman kecil di halaman, atau sekadar menanam cabai dan tomat di dalam pot atau botol bekas air mineral.

Awalnya mungkin hanya ingin agar rumah terlihat lebih asri serta lebih segar dilihat. Namun, siapa yang menyangka, dari sebuah pekarangan kecil kita sebenarnya dapat memulai sesuatu yang jauh lebih besar.

Bukan hanya membuat rumah lebih hijau, tetapi juga belajar agar dapat menghasilkan pangan, mengurangi sampah, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita.

Gagasan inilah yang membuat saya tertarik mengenal Naisar Garden dan konsep Naisar Forest Garden.

Memanfaatkan Lahan Sempit - Sumber: Instagram Naisar Forest Garden


Ketika Pekarangan Tidak Hanya Menjadi Hiasan

Selama ini kita sering membayangkan taman hanya sebagai tempat untuk menanam tanaman hias. Memang cantik dipandang, tetapi belum tentu bisa memberikan manfaat lain bagi keluarga.

Padahal, bagaimana jika pekarangan rumah juga bisa menjadi sumber pangan? Seperti beberapa pot sayuran, tanaman buah, rempah, dan tanaman pangan lainnya yang notabene bisa menjadi bagian dari sebuah ekosistem kecil di rumah.

Inilah yang membuat konsep hutan pangan menarik.

Cara membuat hutan pangan di rumah sebenarnya tidak harus dimulai dari lahan yang luas. Kita bisa memulainya dari apa yang tersedia. Pekarangan sempit, teras, pot, polybag, bahkan sudut rumah yang selama ini tidak digunakan. Dari sanalah, kita belajar bahwa ruang kecil pun bisa mempunyai fungsi besar.

Naisar Garden membawa gagasan tersebut dalam bentuk yang lebih luas. Kebun tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya tanaman, tetapi juga menjadi ruang untuk kita semua belajar dan mengenal kembali hubungan manusia dengan alam.

Sumber: Instagram Naisar Forrest Garden
Melalui Wisata Edukasi Naisar, berkebun dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk mengenal tanaman dan belajar berkebun sayur untuk pemula 


Naisar Garden: Belajar dari Kebun

Ada sesuatu yang menarik dari sebuah kebun ketika ia tidak hanya menawarkan hasil panen, tetapi juga pengalaman. Di sinilah konsep Wisata Edukasi Naisar menjadi relevan.

Di tempat ini anak-anak bisa belajar bahwa sayuran tidak muncul begitu saja di rak supermarket. Ada tanah yang harus dipersiapkan, benih yang harus ditanam, air yang harus dijaga, dan waktu yang dibutuhkan sampai tanaman siap dipanen.

Orang dewasa pun bisa kembali belajar sesuatu hal yang mungkin dulu terasa sangat sederhana: bagaimana menanam makanan sendiri.

Karena itu, menurut saya belajar berkebun sayur untuk pemula tidaklah harus terasa rumit. Kita tidak perlu langsung membuat kebun besar, tetapi kita bisa mulai dari satu tanaman. Kemudian dua, lalu bertambah lagi.

Dari kebiasaan kecil seperti itulah, perlahan akan muncul rasa memiliki terhadap apa yang kita tanam. Dan ketika akhirnya bisa kita memetik sayuran dari halaman sendiri, ada kepuasan yang berbeda. Kita bukan hanya sekadang melihat tanaman tumbuh, tetapi juga melihat hasil dari kesabaran. Saya pun sudah merasakan manfaatnya!

Sumber: Dokpri
Manfaat urban farming untuk lingkungan dapat dimulai dari ruang sederhana seperti teras rumah.


Kebun Sayur Organik dan Ketahanan Pangan Keluarga

Berbicara tentang kebun juga membawa kita pada persoalan yang lebih besar: pangan. Luar biasa, kan?

Kita mungkin tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan makanan keluarga hanya dari halaman rumah. Namun, bukan berarti pekarangan tidak mempunyai peran. Justru dari sanalah kesadaran bisa dimulai.

Menanam cabai sendiri.

Memiliki tanaman kangkung.

Menanam tomat.

Menyediakan beberapa jenis rempah di halaman.

Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan keluarga. 

Bukan karena satu keluarga harus menjadi petani, sama sekali bukan. Namun, karena kita sudah mulai memahami bahwa pangan membutuhkan proses dan kita memiliki kesempatan untuk ikut mengambil bagian. 

Konsep kebun sayur organik juga mengajarkan kita untuk lebih dekat dengan sumber makanan. Kita jadi lebih sadar tentang apa yang ditanam, bagaimana merawatnya, dan bagaimana lingkungan di sekitar tanaman ikut memengaruhi pertumbuhannya.

Sumber: Dokpri
Dengan cara menukar sampah dengan sayuran yang merupakan gagasan dari Naisar Garden, menunjukkan bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagaimana Kalau Sampah Bisa Ditukar dengan Sayuran?

Ada satu gagasan yang menurut saya sangat menarik dalam gerakan lingkungan: bagaimana membuat orang merasa bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga memberikan manfaat nyata dengan cara menukar sampah dengan sayuran.

Bayangkan saja jika sampah yang biasanya kita anggap tidak berguna ternyata bisa menjadi bagian dari proses mendapatkan pangan.

Ada perubahan cara pandang di sana. Karena sampah tidak lagi hanya sesuatu yang harus dibuang, tetapi ia bisa dikumpulkan, dipilah, dikelola, lalu memiliki nilai.

Sementara sayuran bukan semata hasil kebun. Sayuran menjadi pengingat bahwa kebiasaan baik yang dilakukan hari ini dapat menghasilkan sesuatu yang bisa kita nikmati di kemudian hari. Dari sinilah gerakan peduli lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Urban Farming Dimulai dari Rumah

Kita sering mendengar istilah urban farming dan membayangkan aktivitas bercocok tanam di tengah kota dengan sistem yang rumit.

Padahal, manfaat urban farming untuk lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana. Misalnya saja halaman rumah, balkon, satu rak tanaman, serta satu kebiasaan memilah sampah.

Urban farming membuat ruang yang sebelumnya tidak produktif menjadi lebih hidup karena menghadirkan tanaman di lingkungan perkotaan. Tidak hanya itu saja, urban farming juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenal proses menghasilkan pangan.

Seperti apa yang sudah saya lakukan, menanam kangkung dan ginseng di halaman rumah hanya dengan menggunakan polybag.

Lebih dari itu, berkebun juga bisa menjadi aktivitas keluarga.

Anak-anak belajar menyentuh tanah, orang tua belajar merawat tanaman, keluarga menunggu tanaman tumbuh dan kemudian bersama-sama menikmati hasilnya. 

 Sumber: Dokpri
Urban Farming -Tanaman Ginseng di Polybag

Gerakan Besar Bisa Dimulai dari Pekarangan Kecil

Mungkin kita sering merasa bahwa menjaga lingkungan membutuhkan sesuatu yang besar. Harus membuat gerakan, mengajak banyak orang, mempunyai lahan luas. Padahal tidak selalu demikian.

Gerakan peduli lingkungan dari pekarangan rumah justru bisa menjadi salah satu langkah paling sederhana. Karena kita bisa mulai dari rumah sendiri.

Mulai dari memilah sampah, menanam satu jenis sayuran, mengurangi kebiasaan membuang sesuatu yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, mengajak anak mengenal tanaman. Kemudian kebiasaan tersebut bisa dibagikan kepada tetangga, komunitas, atau lingkungan sekitar.

Bukankah perubahan memang sering kali tumbuh seperti tanaman? Dimulai dari sesuatu yang kecil, dirawat dengan konsisten, lalu perlahan menjadi sesuatu yang lebih besar.

Rumah yang Memberi Ruang untuk Bernapas

Pada akhirnya, mungkin rumah yang nyaman bukan hanya tentang sofa yang empuk, interior yang cantik, atau ruangan yang tertata rapi.

Rumah juga membutuhkan ruang hijau, ruang bagi tanaman untuk tumbuh, ruang bagi keluarga untuk belajar, ruang bagi kita untuk berhenti sejenak. Dan ruang bagi kebiasaan baik untuk dimulai bersama.

Naisar Garden mengingatkan kita bahwa sebuah kebun bisa mempunyai makna yang jauh lebih besar dari hanya sekadar kumpulan tanaman. Ia bisa menjadi ruang edukasi, ruang rekreasi, ruang produksi pangan, bahkan ruang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Mungkin kita belum bisa membuat Naisar Forest Garden sendiri di rumah, tetapi kita bisa mengambil semangatnya. Mulai menanam satu tanaman, memilah satu jenis sampah, memanfaatkan satu sudut pekarangan.

Sebab, ketika semakin banyak rumah memberi ruang bagi tanaman untuk tumbuh, bisa jadi yang sedang kita bangun bukan hanya taman, tetapi kita sedang menyiapkan lingkungan yang lebih sehat, keluarga yang lebih sadar pangan, dan masa depan yang sedikit lebih baik.

Karena ternyata, rumah yang nyaman bukan hanya rumah tempat kita pulang. Rumah juga bisa menjadi tempat dari mana perubahan dimulai.

Jasa Pembuatan Backdrop TV Kayu
Ada rumah yang indah dipandang. Ada rumah yang membuat kita ingin pulang.
Mungkin bedanya ada pada bagaimana setiap sudutnya dibuat untuk benar-benar mengerti penghuninya

Bandung sebuah kota yang tidak hanya dikenal dengan udara sejuk, kuliner, dan kreativitasnya. Di kota ini pula, berbagai kebutuhan hunian berkembang bersama munculnya pelaku usaha kreatif, termasuk jasa pembuatan furniture custom.

Salah satunya adalah Ammar Kaayu, yang hadir di Bandung dengan layanan furniture custom dan solusi interior untuk kebutuhan rumah maupun ruang komersial.

Namun, sebenarnya apa yang membuat furniture custom menarik?

Jawabannya mungkin sederhana: karena setiap rumah memiliki cerita yang berbeda.

Ada rumah yang dihuni keluarga besar. Ada pasangan baru yang akan mulai menjalani kehidupan bersama. Ada pula rumah mungil yang harus mampu menampung begitu banyak aktivitas. Karena itulah, sepertinya kurang tepat jika semua ruang menggunakan furniture dengan ukuran dan desain yang sama.

Di sinilah peranan custom furniture menjadi menarik. Karena furniture tidak sekadar dibuat untuk mengisi ruang kosong, tetapi dapat dirancang agar mengikuti kebutuhan orang yang tinggal di dalamnya.

Furniture Kayu Berkualitas Bandung
Backdrop Kayu Cantik di Ruang Kerja
Sumber: Instagram Ammar Kaayu

Ketika Furniture Harus Mengikuti Kehidupan

Pernahkah kita membeli sebuah furniture karena terlihat bagus, tetapi ternyata setelah ditempatkan di rumah malah terasa kurang pas?

Ukurannya terlalu besar, ruang penyimpanannya kurang, atau bentuknya yang tidak benar-benar sesuai dengan kebiasaan kita.

Hal-hal yang terlihat sederhana seperti inilah sering kali baru dirasakan setelah furniture masuk ke dalam rumah. Padahal, rumah memiliki kebutuhan yang sangat personal.

Ada keluarga yang membutuhkan banyak tempat penyimpanan. Ada yang memiliki dapur kecil dengan bentuk ruangan tidak biasa. Ada pula yang ingin memanfaatkan sudut ruangan yang selama ini kosong.

Karena itu, Ammar Kaayu sebagai jasa custom furniture Bandung dapat menjadi pilihan ketika kita ingin furniture dibuat mengikuti ukuran, fungsi, sekaligus karakter ruang di dalam rumah.

Bukan ruang yang dipaksa mengikuti furniture, melainkan furniture yang dibuat untuk membantu ruang bekerja lebih baik.

Interior Rumah Minimalis
Ruang Keluarga
Sumber: Instagram Ammar Kayu

Kayu dan Karakter Sebuah Rumah

Bagi saya, ada sesuatu yang menarik dari furniture berbahan kayu.

Tekstur kayu yang alami menurut saya dapat menghadirkan kesan hangat dan membuat sebuah ruangan terasa lebih hidup. Tidak mengherankan jika jasa mebel kayu Bandung ini tetap memiliki tempat tersendiri bagi mereka yang ingin menghadirkan nuansa natural di dalam rumah.

Namun, furniture kayu yang baik tentu bukan hanya tentang penampilan.

Kualitas material, ketepatan ukuran, konstruksi, detail pengerjaan, hingga finishing turut menentukan apakah sebuah furniture akan benar-benar nyaman digunakan dalam jangka panjang.

Karena itu, ketika berbicara tentang Ammar Kaayu sebagai jasa pembuatan furniture Bandung, kita tidak hanya berbicara tentang tempat membeli perabot. Di sana ada proses sebuah furniture dibuat hingga mampu menjadi bagian dari kehidupan penggunanya.

Workshop Ammar Kaayu - Sumber: Instagram Ammar Kaayu


Mengenal Ammar Kaayu dari Bandung

Kebutuhan itulah yang membuat Ammar Kaayu sangat pantas untuk mendapatkan perhatian.

Berlokasi di Bandung, Ammar Kaayu adalah workshop yang bergerak dalam bidang pembuatan furniture custom sekaligus solusi interior. Layanannya tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan hunian, tetapi juga berbagai kebutuhan ruang komersial.

Konsepnya cukup relevan dengan kebutuhan rumah masa kini. Sebab, rumah modern tidak selalu memiliki ukuran yang luas. Justru pada ruang yang terbatas, furniture perlu dirancang dengan lebih cermat agar fungsi dan estetika tetap berjalan bersama.

Di sinilah juga Ammar Kaayu yang memberikan jasa interior desain Bandung dan furniture custom  melengkapi untuk berbagai kebutuhan ruang di dalam rumah.

Desain menentukan bagaimana ruang terlihat, sementara furniture membantu menerjemahkan kebutuhan penghuni ke dalam bentuk yang nyata.

Pembuatan Kitchen Set Bandung
Sumber: Instagram Ammar Kaayu

Dari Dapur hingga Ruang Keluarga

Salah satu ruang yang paling membutuhkan furniture sesuai kebutuhan adalah dapur. 

Ukuran dapur, posisi kompor, tempat mencuci, penyimpanan peralatan, hingga kebiasaan memasak setiap keluarga tentu berbeda.

Karena itulah, jasa pembuatan kitchen set Bandung Ammar Kaayu yang membuat pesanan secara custom dapat membantu menciptakan dapur yang lebih sesuai dengan ruang sekaligus aktivitas penggunanya.

Begitu juga dengan ruang keluarga.

Backdrop televisi, misalnya, tidak harus hanya menjadi tempat meletakkan televisi. Dengan desain yang tepat, area tersebut dapat sekaligus menjadi bagian dari interior dan ruang penyimpanan.

Untuk kebutuhan seperti ini, Ammar Kaayu juga menyediakan jasa pembuatan backdrop TV kayu yang dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menghadirkan elemen kayu menyatu dengan suasana ruangan.

Kemudian ada juga kamar tidur.

Daripada membiarkan sudut ruangan tidak termanfaatkan atau menggunakan lemari yang ukurannya tidak sesuai, Ammar Kaayu sebagai penyedia jasa pembuatan lemari pakaian custom Bandung dapat merancang berdasarkan ukuran dan kebutuhan kamar.

Terasa sangat sederhana, padahal detail-detail seperti inilah yang seringkali bisa membuat sebuah rumah terasa lebih personal.

Jasa Custom Furniture Bandung
Kebutuhan Rumah Minimalis
Sumber: Instagram Ammar Kaayu

Rumah Minimalis Tidak Harus Kehilangan Karakter

Konsep minimalis semakin banyak diterapkan pada hunian masa kini. Namun, minimalis bukan berarti rumah harus kosong atau malah tidak memiliki karakter.

Justru karena ruangnya terbatas, setiap furniture perlu dipilih dengan lebih bijaksana.

Beberapa contoh interior rumah minimalis Bandung, misalnya, furniture yang membuat ruangan terasa lebih lapang tanpa menghilangkan fungsi yang dibutuhkan penghuninya karya Ammar Kaayu dapat dilihat pada Instagram-nya.

Tidak semua sudut harus dipenuhi furniture.

Tidak semua benda harus dimiliki.

Kadang, kita hanya perlu memilih apa yang benar-benar dibutuhkan dan menempatkannya dengan tepat.

Di sinilah Ammar Kaayu dapat menjadi bagian dari solusi untuk menciptakan ruang yang sederhana, fungsional, sekaligus memiliki karakter sesuai dengan tujuannya yaitu menjadi penyedia jasa pembuatan furniture kayu berkualitas Bandung dan furniture custom.

Interior Desain Bandung
Furniture Custom
Sumber: Instagram Ammar Kaayu

Karena Rumah Seharusnya Bercerita Tentang Penghuninya

Pada akhirnya, memiliki furniture paling mahal atau mengikuti semua tren interior bukanlah standar dari rumah yang nyaman. Sebab rumah yang nyaman adalah rumah yang memahami kebutuhan penghuninya.

Ada meja yang dibuat karena seseorang senang bekerja sambil menikmati kopi, lemari yang dirancang agar barang-barang keluarga lebih mudah disimpan, kitchen set yang membuat kegiatan memasak terasa lebih menyenangkan, serta ada pula furniture kayu yang mungkin terlihat sederhana, tetapi perlahan menjadi saksi kehangatan percakapan, tawa, dan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika seseorang mencari Ammar Kaayu sebagai penyedia jasa custom furniture Bandung, maka dapat dipastikan mereka tidak hanya mencari sekadar pembuat furniture. Mereka sedang mencari cara untuk membuat ruang yang dimilikinya terasa lebih dekat dengan dirinya.

Sebab, rumah tidak harus menjadi yang paling besar untuk terasa nyaman. Kadang, ia hanya rumah yang setiap sudutnya mengerti kebutuhan penghuninya.

Dan mungkin, di situlah rumah mulai bercerita.

Bercerita tentang siapa kita, bagaimana kita menjalani hari, dan hal-hal sederhana yang membuat kita selalu ingin pulang.

Older Posts Home

AUTHOR

My photo
Haning Arum S.
Ibu tiga anak yang mempunyai latar belakang beragam. Merintis beberapa usaha dan memulai pekerjaan sebagai editor pada tahun 2016 lalu. Tinggal di Cibubur Jakarta Timur. Saat ini, mempunyai kegiatan sebagai MomPreneur, penulis, editor, makeup artist dan menjadi mentor di kelas-kelas menulis dan makeup.
View my complete profile

FOLLOW MY FACEBOOK PAGE

POPULAR POSTS

  • Mengatasi Morning Sickness dengan Hipnoterapi dan Menjaga Pola Makan
    Sumber: Dokumen Pribadi "Selamat, Anda hamil!" Wow, berjuta rasanya ketika dokter mengatakan hal tersebut kepada Moms dan suami a...
  • Membangun Kecerdasan dan Kreativitas Anak Lewat Ekstrakurikuler Robotic
    Membangun Kecerdasan dan Kreativitas Anak Lewat Ekstrakurikuler Robotic - Sumber: Anatta Sannai Kecerdasan dan kreativitas seora...
  • Yayasan PKP JIS Cetak Generasi Emas Bangsa Lewat Kegiatan Robotik
    Piala Kejuarnas Bllitar Tim Robotic MTs. PKP JIS - Sumber: Dokpri  Perkembangan zaman saat ini menuntut masyarakat untuk dapat menyesuaikan ...
  • Survey TK Islam & Umum Cibubur Dsk - Part One
    Tiba waktunya untuk Manda cari2 TK untuk Kk, Karena Papanda nya ingin Kk dimasukkan TK Islam maka survey berikut sebagian besar adalah TK Is...
  • Ngopi Santai dan Nikmat Bersama Luwak White Koffie
    Everyday Coffee - Sumber: Dokumen Pribadi Siapa pecinta kopi di sini, tunjuk tangaaann ... :D Hai semua, kali ini Ibu sebagai co...
  • Info Kursus Menembak
    Info Kursus Menembak - Sumber: Lovhana Setelah sekian lama rencana ikutan latihan menembak tertunda, akhirnya  hari Sabtu lalu (...
  • Arti BIRADS Pada Pemeriksaan USG
    Sumber: Dokumen pribadi Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Maret saya merasakan rasa cenut-cenut di kedua payudara hingga ketiak. A...
  • Dukung Literasi Anak, Yayasan PKP JIS Sediakan Perpustakaan yang Nyaman
    Dukung Literasi Anak - Sumber: Dokumen Pribadi Di antara orang tua pasti ada yang pernah mengeluhkan mengenai anaknya yang malas...
  • Lovhana's 4th B'Day
    Ultah si Kk ke 4 ini lebih banyak cerita sedihnya L pernak pernik ultah seperti cake dan goodybag yang rencananya akan digarap sendiri oleh ...
  • Tips Sukses Interview
      Tips Sukses Interview - Sumber: Dokumen pribadi Hai temans, pada kesempatan ini, saya ingin share sedikit tips untuk kalian yang mau menja...

Categories

  • All About Tumor & Cancer
  • Aneka Tips
  • Beauty and Makeup
  • Bisnis dan Keuangan
  • Books
  • Buku Emak Berbisnis
  • Digital Marketing
  • Fashion
  • Hukum
  • Human Resource
  • Indscript Creative
  • Info
  • Kehamilan
  • Kesehatan
  • Kesehatan Anak
  • Kisah Inspiratif
  • Kopi
  • Life Style
  • Lingkungan
  • Literasi
  • Manda Lovhana
  • Motivasi & Interpersonal Skills
  • My Bizz
  • My Stories
  • Olahraga
  • Papa
  • Parenting
  • Peluang Usaha
  • Pendidikan
  • Property
  • Sarasayu Books
  • Training/Seminar

Copyright © 2016 Ibu Berbagi Cerita. Created by OddThemes